Makanan khas Suku Jawa

Makanan khas Suku Jawa tidak terlepas dari adat istiadat, budaya hingga tradisi di setiap daerah. Walau banyak perbedaan, namun soal cita rasa tidak jauh berbeda yaitu gurih, asin, dan manis.

Tidak ada pedas sama sekali. Jika, Anda menemukan olahan tersebut biasanya merupakan kreasi tambahan seperti gudeg mercon di Yogyakarta atau hanya sebagai tambahan saja. Tidak seperti Padang atau Jawa Timur.

Dimana, pedas menjadi cita rasa utama dan hampir setiap olahan pasti didampingi dengan menu sambal atau minimal menggunakan cabai satu hingga dua biji. Kondisi tersebut bisa dilihat dari Nasi Tumpeng.

Makanan khas Suku Jawa itu menunjukkan budaya, tradisi, hingga adat istiadat yang sampai saat ini terus dijalankan. Bahkan, keberadaannya bukan hanya fokus di Jawa saja melainkan, sudah merambah tingkat nasional.

Menurut pengertiannya Nasi Tumpeng merupakan olahan makan terbuat dari beras kemudian di bentuk kerucut. Selanjutnya, di tata bersama dengan berbagai lauk pauk yang jumlahnya ada 7 macam.

Makanan khas Suku Jawa tersebut biasanya menggunakan nasi kuning. Tetapi, ada beberapa orang menggantinya dengan uduk atau putih biasa. Bukan hanya menjadi menu tradisional saja melainkan punya peranan penting.

Dimana fungsinya sebagai upacara syukuran karena sesuatu atau perayaan penting sampai ulang tahun. Dalam penyajiannya bukan memakai piring melainkan tampah atau wadah tradisonal yang terbuat dari anyaman bambu.

Sejarah Makanan Khas Suku Jawa

 

Masyarakat Jawa memang terkenal dengan berbagai adat dan budaya yang sangat kental. Salah satunya Nasi Tumpeng, mempunyai filosofi erat dengan keadaan geografis Indonesia. Khususnya Pulau Jawa yaitu keberadaan gunung berapi.

Makanan khas Suku Jawa tersebut menjadi simbol kepercayaan penduduk zaman dahulu. Dimana, mereka meyakini bahwa, gunung merupakan tempat bersemayamnya arwah leluhur atau para hyang. Masuknya ajaran Hindu tidak mengubah segalanya.

Melainkan, menyempurnakan kepercayaan yang sudah ada selama ini. Dimana, bentuk kerucut tersebut merupakan miniatur dari gunung Mahameru atau Semeru yang disucikan. Karena, disana tempatnya dewa dan dewi tinggal.

Makanan khas Suku Jawa masih tidak tergoyahkan, Walaupun Islam sudah masuk ke tanah Jawa. Mereka mengubah kepercayaan Mahameru dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi, bentuk kerucut merupakan pesan dan permohonan.

Perbedaannya sebelum mengadakan tradisi ini, ada iringan doa dengan membaca ayat suci Al-Quran terlebih dulu. Jadi, Tumpeng tersebut hanya sebagai bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang sudah diberikan.

Filosofi makanan khas Suku Jawa ini juga tercatat dalam pengertiannya secara akronim yaitu yen metu kudu sing mempeng. Bila diartikan dalam bahasa Indonesia bunyinya, jika keluar harus bersungguh-sungguh.

Ada lagi 7 macam lauk, mempunyai akronim pitulungan atau pertolongan yang ditujukan kepada Tuhan. Selanjutnya, Buceng mlebu kudu sing kenceng atau kalau masuk harus bersungguh-sungguh.

Semua akronim merupakan wujud doa dari surat Al-Isra ayat ke 80 yang selalu di baca oleh Nabi Muhammad SAW. Sehingga, nasi Tumpeng merupakan perwujudan permintaan pertolongan kepada Tuhan.

Cara Memotong Tumpeng Makanan Khas Suku Jawa

Inilah budaya dan tradisi yang ada di suku Jawa, cukup rumit dan kompleks, tetapi mempunyai makna mendalam terhadap semua perbuatan tersebut. Sehingga, bisa dijadikan sebagai petuah dalam kehidupan.

Dalam memotong makanan khas Suku Jawa ini tidak boleh sembarangan begitu saja. Harus memenuhi bagaimana tata cara sesuai warisan nenek moyang. Prosesnya harus dari atas, pemotongan dari puncaknya terlebih dulu.

Kemudian, ditempatkan pada piring selanjutnya, diberikan lauk pauk lengkap sesuai jumlahnya. Baru diberikan kepada orang penting terlebih dulu atau tersayang. Inilah cara untuk proses pemotongan tersebut.

Makanan khas Suku Jawa tersebut juga wajib disantap bersama dengan beberapa lauk secara bersamaan. Dalam bahasa jawa disebut dengan dikepung. Mulai lauk ambil nasi dari bawah menuju ke atas.

Hingga, sampai ke puncaknya dan habis. Langkah ini disebut juga dengan Manunggaling Kawulo lan Gusti dalam bahasa Indonesia artinya adalah Tuhan menjadi tempat semua orang akan kembali.

Sebenarnya awal mula makanan khas Suku Jawa ini diperkenalkan. Tata caranya adalah makan bersama dan itu dari bawah. Hal ini mengajarkan serta menunjukkan bagaimana kebersamaan adalah sesuatu yang indah.

Hanya saja seiring berjalannya waktu, kebudayaan itu bergeser. menjadi pemotongan dari puncak, hal ini terjadi akibat kebudayaan bangsa barat. Dimana, mereka selalu ada acara pemotongan kue saat merayakan sesuatu

Walaupun sudah bergeser. Namun tidak mengurangi tingkat sakralnya. Pada dasarnya, memakan dengan sendok dan dibagikan dengan piring itu lebih bersih dan higienis. Terbebas dari kuman serta bakteri.

Lauk Pauk Makanan khas Suku Jawa

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa, lauk untuk nasi ini berjumlah 7 macam. Walaupun ada beberapa orang memberinya 8 sampai 10 macam. Diman untuk lauknya ini tidak perlu mewah.

Tidak heran bila makanan khas Jawa ini tidak akan jauh dari yang namanya ayam goreng. Menu tersebut menjadi wajib hanya cara dan teknik pengolahannya berbeda. Bisa hanya digoreng biasa.

Bisa juga mengolahnya menggunakan tepung, atau diberi beberapa bumbu penyedap tambahan. Penggunaannya bisa dijadikan sebagai rekomendasi, hanya saja usahakan jangan terlalu besar lebih baik kecil asal sesuai dengan jumlah tamu.

Lauk pauk makanan khas Suku Jawa berikutnya adalah telor. Hanya saja bukan digoreng seperti mata sapi melainkan, lebih ke mirip omelet. Ada yang dibentuk bundar tetapi, tidak sedikit yang dipotong memanjang.

Kelezatan Tumpeng kurang terasa bila tidak menambahkannya dengan tempe orek. menu ini memang harus dihadirkan karena, mempunyai rasa yang gurih dan manis, sehingga saat disantap bersama hasilnya jauh lebih muaskan.

Jangan lupa dengan menu sayuran ada berbagai pilihan tetapi, paling disarankan adalah urap atau merupakan salad segar. Berupa sayuran dan di campur menggunakan parutan kelapa, cita rasanya gurih nikmat.

Variasi Makanan Khas Suku Jawa

Tidak hanya digunakan untuk berbagai acara ulang tahun saja. Tetapi berbagai kegiatan juga biasa menggunakan Nasi Tumpeng. Hanya saja, namanya sedikit berbeda, begitu pula dengan komponennya beberapa hampir mirip.

Variasi pertama makanan khas Suku Jawa  ini adalah Robyong. Biasanya digunakan acara siraman atau pada saat upacara adat pernikahan Jawa. Perbedaannya ada pada puncaknya diletakkan telur, terasi, bawang dan cabai.

Ada lagi Tumpeng Nujuh Bulan, biasa dibuat bagi pasangan suami istri yang sedang mengandung dan usianya masuk bulan ke tujuh. Menggunakan nasi putih cukup besar serta sampingnya ada enam kecil.

Makanan khas Jawa ini selanjutnya digunakan untuk acara kematian. Bagi pria atau wanita yang statusnya lajang. Menggunakan nasi putih serta beberapa lauk dan pemotongannya digunakan untuk vertikal.

Bagi beberapa masyarakat Tumpeng juga digunakan sebagai hidangan untuk kegiatan Maulud Nabi. Atau acara memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Beberapa memakai nasi gurih serta ada tiga sampai tujuh.

Nasi Tumpeng menjadi salah satu budaya dan adat istiadat yang masih terus dilestarikan sampai sekarang. Makanan khas Jawa tersebut mempunyai cita rasa gurih dengan berbagai macam lauk.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *