Baju Adat Banjar

  • 4 min read
  • Jun 02, 2020
Baju Adat Banjar

Suku Banjar merupakan salah satu suku yang mendiami Pulau Kalimantan, tepatnya di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Sekitar 74% dari populasi Kalsel merupakan warga suku Banjar. Seperti juga suku lain di Indonesia, suku ini memiliki berbagai ciri khas dalam budayanya. Hal ini dapat dilihat dari baju adat Banjar.

 

Filosofi Baju Adat Suku Banjar

Filosofi Baju Adat Suku Banjar

Dari zaman dahulu hingga sekarang, baju adat Banjar dibuat dari kain sasirangan. Kain tersebut merupakan hasil tenunan dan pewarnaan yang dilakukan oleh warga suku Banjar. Sekilas kain ini nampak seperti kain tenun Melayu pada umumnya. Akan tetapi, masyarakat Banjar kuno memiliki kepercayaan sendiri terhadap kain ini.

Asal mula kepercayaan ini berasal dari sebuah legenda. Legenda ini menceritakan bahwa Patih Lambung Mangkurat melakukan pertapaan di atas rakit selama 40 hari 40 malam. Di akhir pertapaannya, ia memperoleh wangsit bahwa ia harus membuat kain sasirangan dan membangun istana Batung jika ia ingin melihat wujud dari Putri Junjung Buih.

Sehingga, mereka percaya bahwa kain ini dapat melindungi mereka dari roh jahat. Selain itu, mereka juga percaya bahwa kain sasirangan dapat menyembuhkan orang yang mengenakannya. Oleh karenanya mereka menggunakan kain ini sebagai sarung, kerudung, kemben, dan ikat kepala.

 

Nama Baju Adat Banjar Kalimantan Selatan

Di Kalsel, terdapat beberapa baju adat yang umum dikenal. Nama baju adat Banjar tersebut adalah:

  1. Baju Cekak Musang

Baju Cekak Musang

Jenis baju adat Banjar ini merupakan baju untuk laki-laki. Bentuk busana ini seperti baju koko dengan dua saku dan panjang baju mencapai paha bagian atas. Baju Cekak Musang sendiri adalah busana yang diadaptasi dari baju gamis para pedagang Arab yang singgah di Banjarmasin. Modifikasi ini terutama terletak pada panjang baju yang dipendekkan.

Baju Cekak Musang biasanya dikenakan sebagai luaran. Selain itu, dalam pemakaiannya, busana ini dipadukan dengan baju dalam lengan pendek, celana panjang, dan sarung selutut. Warna celana panjang dan baju cekak musang ini biasanya senada. Selain itu, laki-laki Banjar biasanya juga memadukannya dengan topi laung.

  1. Baju Poko

Baju Poko

Busana ini dipakai oleh perempuan Banjar. Baju Poko ini panjangnya sepinggul dan berlengan pendek serta dihiasi manik-manik. Penggunaannya biasanya dipadukan dengan kain sarung. Selain itu, saat mengenakan baju Poko, perempuan Banjar juga mengenakan ikat pinggang, selop, dan rambutnya disanggul.

Kedua ragam busana tersebut merupakan baju adat Banjar dewasa. Sedangkan untuk anak-anak, pakaian adatnya tentu saja tidak serumit dan sedetail pakaian adat untuk orang dewasa. Pakaian anak-anak lebih sederhana meski modelnya tak jauh beda.

Baju untuk anak laki-laki berupa baju Cekak Musang, baju dalam, celana panjang, dan sarung selutut. Pakaian ini biasanya dilengkapi dengan hiasan kepala yang cukup sederhana dan selop. Sedangkan baju untuk anak perempuan berupa baju Poko dan sarung sebagai bawahan. Aksesoris pelengkapnya adalah selop dan hiasan kepala. Namun, hiasan tersebut bukan berbentuk mahkota.

Pakaian adat Banjar kebanyakan memiliki warna dominan kuning atau kuning keemasan. Warna tersebut biasanya dipadukan dengan warna merah atau warna mencolok lainnya dalam bentuk kain sarung dan hiasan kepala laki-laki. Selain dominan kuning, pakaian adat daerah iniĀ  juga terdapat yang berwarna merah serta hijau.

 

Baju Adat Pernikahan Khas Banjar

Baju pengantin khas adat Banjar ada 4 macam. Beberapa ragam baju ini merupakan baju adat yang sudah ada selama berabad-abad. Sedangkan salah satu dari mereka merupakan busana pengantin yang lebih modern. Berikut ini macam-macam busana tersebut.

  1. Bagajah Gamuling Baular Lulut

Bagajah Gamuling Baular Lulut

Busana Bagajah Gamuling Baular Lulut merupakan busana pengantin yang paling tua dari suku Banjar. Pakaian tersebut diperkirakan sudah ada sejak abad ke-15 hingga ke-16. Jika dilihat dari modelnya, busana dan riasan Bagajah Gamuling Baular Lulut sangat terpengaruh oleh budaya Hindu. Hal ini dibuktikan dari penggunaan ronce bunga melati dan kemben atau udat.

Pada ragam busana pengantin ini, pengantin pria menggunakan kain sasirangan motif halilipan yang dililitkan seperti sarung selutut dan celana yang panjangnya hanya sampai di bawah lutut. Pengantin ini biasanya tidak mengenakan atasan. Namun, beberapa pengantin melakukan sedikit modifikasi dengan cara memadukannya dengan baju Poko berlengan pendek.

Bagi pengantin wanita, busananya berupa udat atau kemben dan kain sasirangan untuk bawahan. Pakaian ini juga dilengkapi dengan ikat pinggang, selendang, dan hiasan penutup dada atau kida-kida. Baik pengantin pria maupun wanita biasanya menggunakan selop dan hiasan kepala yang dinamakan Bagajah Gamuling Baular Lulut.

Hiasan ini berupa mahkota dari logam kuningan dengan bagian depan berbentuk dua ular naga yang bertemu. Selain itu, kepala mereka juga dihiasi dengan kembang goyang. Pengantin pria biasanya juga menyandang keris. Busana ini melambangkan kecerdikan dan kehebatan yang tidak dipamerkan serta ketangkasan.

  1. Babaju Kun Galung Pacinan

Babaju Kun Galung Pacinan

Seperti namanya, busana ini memiliki pengaruh dari pedagang China yang dahulu singgah di Banjarmasin. Untuk pengantin pria, busana ini terdiri dari gamis panjang, jubah, dan selop. Untuk hiasan kepalanya menggunakan kopiah yang dililit dengan surban.

Sementara itu, untuk pengantin wanita, busana ini terdiri dari cheong sam berlengan panjang serta rok panjang. Pakaian ini dihiasi dengan manik-manik indah. Selain itu, pengantin wanita juga menggunakan selop, mahkota, tusuk konde, serta kembang goyang. Baik pengantin pria dan wanita dihiasi dengan ronce bunga melati.

  1. Baamar Galung Pancaran Matahari

Baamar Galung Pancaran Matahari

Baju adat Banjar ini mulai digunakan sejak abad ke-17. Sampai sekarang, Baamar Galung Pancaran Matahari masih banyak disukai, bahkan merupakan yang paling populer. Busana ini terdiri dari pakaian lengan panjang tanpa kancing, baju dalam, sarung motif halilipan selutut, dan celana panjang untuk laki-laki.

Selain itu, pengantin pria juga mengenakan laung destar sebagai hiasan kepalanya, selop, kain ikat pinggang, dan keris. Untuk pengantin wanita, busana ini terdiri dari baju Poko berlengan pendek, sarung, ikat pinggang, dan kida-kida atau aksesoris penutup dada. Sebagai hiasan kepalanya, ia mengenakan mahkota besar, kembang goyang, dan ronce bunga melati.

  1. Babaju Kubaya Panjang

Babaju Kubaya Panjang

Busana pengantin ini merupakan variasi busana adat Banjar modern. Dalam model ini, semua unsur dari ketiga macam baju pengantin sebelumnya dicampur menjadi satu. Dalam ragam busana ini, pengantin pria mengenakan jas lengan panjang, baju dalam, sarung selutut dan celana panjang. Untuk hiasan kepalanya, ia memakai laung destar.

Di samping itu, pengantin wanita mengenakan kebaya panjang berlengan panjang, sarung, serta mahkota besar pancaran matahari. Pengantin ini juga mengenakan ronce bunga melati. Beberapa pengantin juga menggunakan kerudung dalam ragam busana ini. Untuk tata riasnya, pengantin wanita dirias dengan gaya Baamar Galung Pancaran Matahari.

Baju adat Banjar merupakan busana yang cantik dan semarak. Hal ini dikarenakan oleh banyaknya aksesoris yang digunakan untuk melengkapinya. Selain itu, kesemarakan dapat dirasakan dari warna kuning cerah yang erat melekat pada pakaian ini. Meski baju adat ini sudah berumur ratusan tahun, namun keindahannya tidak kalah dengan baju modern.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *