Baju Adat Banten dan Baduy

  • 4 min read
  • Jun 01, 2020
Baju Adat Banten

Banten merupakan provinsi yang terletak di ujung barat Pulau Jawa. Provinsi yang belum lama terbentuk ini memiliki kebudayaan yang cukup beragam. Namun, karena wilayahnya merupakan pecahan dari Provinsi Jawa Barat, maka budayanya terpengaruh oleh budaya Sunda. Hal ini dapat dilihat dari baju adat Banten. Seperti apakah baju adat tersebut? Yuk kita simak bersama di sini, Budayanesia.

Keunikan Baju Adat Banten dan Filosofinya

Keunikan Baju Adat Banten dan Filosofinya

Pakaian adat suatu daerah merupakan salah satu produk pemikiran dan kreativitas daerah itu sendiri. Busana ini biasanya tidak diciptakan hanya untuk melindungi tubuh dari panas dan dingin. Namun, pencipta pakaian tersebut biasanya juga menyelipkan makna filosofis pada desainnya.

Hal ini juga terjadi pada baju adat Banten. Pakaian adat ini memiliki keunikan yang khas dan filosofinya sendiri. Salah satu keunikan ini dapat dilihat pada pakaian yang dikenakan oleh suku Baduy yang tinggal di Banten. Pakaian suku ini dibuat dengan cara dijahit tangan dan tidak memiliki detail seperti kerah baju, saku, maupun kancing.

Makna filosofis dari pakaian khas Banten ini salah satunya dapat dilihat dari penggunaan warna kainnya. Pakaian suku Baduy dalam biasanya berwarna putih. Warna ini melambangkan kesucian suku yang tidak terpengaruh oleh budaya luar yang dapat merusak budaya asli.

Keunikan lain dapat dilihat dari kain batik Baduy yang digunakan sebagai bawahan maupun selendang oleh warga suku Baduy. Batik tersebut memiliki corak warna dominan hitam dan biru. Warna tersebut melambangkan kecintaan suku terhadap alam. Kecintaan kepada alam juga ditunjukkan pada motifnya yang bertema alam, misalnya motif belimbing, tapak kebo, merak, dan keong.

 

Nama-Nama Baju Adat Banten

Nama Nama Baju Adat Banten

Busana khas dari daerah Banten ini dikenal dalam beberapa macam. Jenis pakaian tersebut dibedakan berdasarkan fungsinya. Selain itu, pakaian ini juga dibedakan berdasarkan siapa pemakainya. Berikut ini macam-macam baju adat Banten.

  1. Baju Suku Baduy Luar

Baju Suku Baduy Luar

Suku Baduy luar memiliki budaya dan tradisi yang sedikit terpengaruh oleh budaya dari wilayah yang berbatasan dengannya. Suku ini juga telah menerapkan beberapa teknik mendasar dalam aspek kehidupannya. Salah satunya adalah dalam aspek pembuatan pakaian adatnya. Sehingga, pakaiannya sudah dibuat dengan cara dijahit dengan mesin.

Pakaian adat suku Baduy Luar disebut baju Kampret. Pakaian ini berwarna hitam dan bentuknya berubah-ubah disesuaikan dengan kebutuhan pemakainya. Hal ini bisa dilihat dengan adanya saku dan kancing.

Selain itu, bahan kain yang digunakan tidak harus berasal dari 100% kapas. Untuk melengkapi baju Kampret ini, warga suku Baduy Luar mengenakan ikat kepala batik khas Baduy. Ikat kepala ini biasanya berwarna biru.

  1. Baju Suku Baduy Dalam

Baju Suku Baduy Dalam
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Suku Baduy Dalam kurang terbuka pada budaya luar dan kental dengan budaya mistis. Oleh karenanya, pakaian mereka terbilang unik. Nama baju adat suku Baduy Dalam adalah Jamang Sangsang yang artinya penutup tubuh yang digantungkan pada pundak. Pakaian ini berwarna putih karena melambangkan kemurnian budaya.

Jamang Sangsang terbuat dari kain yang ditenun dari kapas 100%. Pakaian tersebut dijahit tangan, berlengan panjang, dan tidak memiliki kancing maupun saku. Untuk bawahannya, warga suku Baduy Dalam memakai sarung biru tua ataupun hitam yang dililitkan, sehingga berbentuk seperti celana. Selain itu, warga suku ini juga memakai ikat kepala putih.

  1. Baju Suku Baduy untuk wanita

Baju Suku Baduy untuk wanita

Para wanita suku Baduy tidak mengenakan baju Kampret maupun Jamang Sangsang. Dalam kesehariannya, mereka mengenakan sarung yang dililitkan pada dada. Sarung ini biasanya panjang sampai tumit dan berwarna dasar biru atau hitam. Jika bepergian, mereka biasanya mengenakan kebaya, sarung yang diikat dengan kain, dan selendang.

  1. Baju Pangsi

Baju Pangsi

Baju pangsi sebenarnya tidak hanya dikenal di daerah Banten. Pakaian ini juga dikenal di daerah Jawa Barat dan Betawi. Baju Pangsi terdiri dari atasan berwarna hitam yang disebut Salontreng dan celana hitam yang disebut Pangsi. Panjang celana tersebut biasanya tidak sampai mata kaki. Baju Pangsi ini hanya digunakan oleh laki-laki.

Pakaian adat ini biasanya digunakan untuk keseharian, misalnya bekerja dan berlatih ilmu bela diri. Selain sebagai pelindung tubuh, baju Pangsi juga mengandung nilai filosofis. Kancingnya melambangkan rukun iman atau rukun islam. Selain itu, mereka yang mengenakannya diharapkan dapat berpendirian teguh, berkeyakinan, dan rendah hati.

  1. Baju Pengantin

Baju Pengantin banten

Pakaian pengantin adat Banten sudah mengalami berbagai perkembangan. Sehingga, tak heran jika terdapat kreasi baju adat Banten modern yang dikenakan oleh pengantin pria maupun pengantin wanita. Dahulu, busana pengantin ini berupa baju koko berkerah yang dipadukan dengan kain samping atau batik untuk pengantin pria.

Busana tersebut biasanya juga dilengkapi dengan selop, blangkon, sabuk, dan keris.  Sedangkan untuk pengantin wanita, busananya berupa kebaya putih sepanjang pinggul dan kain batik. Sementara itu, aksesoris pelengkapnya adalah selendang, selop, dan hiasan kepala berupa kembang goyang berwarna kuning keemasan.

 

Baju Adat Banten untuk Anak-anak

Baju Adat Banten untuk Anak anak

Busana adat Banten untuk anak-anak tak jauh berbeda dari baju adat Banten untuk orang dewasa. Akan tetapi, pakaian ini tentu saja lebih sederhana sehingga anak dapat mengenakannya dengan mudah dan dapat leluasa bergerak ketika memakainya.

Baju adat Banten anak laki-laki berupa baju koko, kain batik, sabuk, selop, dan blangkon, serta dilengkapi ikat kepala.. Pakaian adat untuk anak perempuan berupa kebaya, kain batik, dan hiasan kepala. Untuk anak-anak Baduy, pakaian mereka juga tak jauh beda dari orang tua mereka. Busana tersebut berupa baju Kampret atau Jamang Sangsang, serta bawahan batik khas suku Baduy.

 

Baju Adat Banten untuk Pernikahan

Baju Adat Banten untuk Pernikahan

Busana pengantin adat Banten yang ada saat ini lebih bervariasi. Jika dahulu hanya berupa kebaya putih, baju koko putih, dan kain batik, maka kini para pengantin Banten dapat memilih busana yang sedikit berbeda dari itu. Salah satu contoh variasi tersebut adalah kebaya yang lebih panjang, sampai lutut atau bahkan tumit.

Dalam upacara pengantin Banten adat kebesaran, busana pengantin yang dikenakan berbeda dari busana pengantin biasa. Berikut ini busana untuk laki-laki dan perempuan.

  1. Untuk Mempelai Laki-Laki

Untuk Mempelai Laki Laki

Dalam ragam corak busana adat ini, pengantin pria mengenakan baju koko berwarna hitam atau hijau yang terbuat dari beludru. Baju ini dihiasi dengan sulaman atau hiasan keemasan serta dipadukan dengan kain samping atau batik. Untuk aksesorisnya, pengantin pria mengenakan makuta raja, selop, dan membawa tombak pendek.

 

  1. Untuk Mempelai Perempuan

Untuk Mempelai Perempuan

Busana pengantin wanita senada dengan busana pengantin pria. Ia mengenakan kebaya beludru hijau atau hitam yang berhiaskan sulaman atau hiasan keemasan. Selain itu, ia juga mengenakan kain batik yang serasi dengan pengantin pria. Untuk aksesorisnya, mempelai wanita mengenakan makuta, kembang goyang, selop, dan rangkaian bunga melati.

Sekilas, baju adat Banten seperti perpaduan baju adat Sunda, Jawa, dan Betawi. Meski demikian, busana ini memiliki kekhasan sendiri. Selain itu, busana ini juga sarat akan nilai filosofis. Untuk memperoleh pakaian adat ini, Budayanesia dapat menyewa atau membelinya via online maupun offline.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *