Baju Adat NTT

Pakaian Adat NTT

Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman suku dan budaya yang mengagumkan. Salah satu kebanggaan ibu pertiwi adalah baju adat sebagai penanda atau simbol setiap provinsi. Dari berbagai macam pakaian tradisional yang dimiliki Indonesia, baju adat NTT tidak kalah menarik untuk diulas.

Seperti yang Budyayanesia ketahui, Indonesia merupakan daerah kepulauan dan terdapat lebih dari satu suku asli. Masing-masing suku memiliki pakaian adat yang berbeda. Ciri khas yang dimiliki penduduk asli NTT tidak jarang digunakan sebagai media pengenal keanekaragaman Indonesia di kancah Internasional.

Keunikan Baju Adat NTT (Nusa Tenggara Timur)

Macam Macam Baju Adat NTT

Kepulauan Nusa Tenggara mengingatkan betapa indahnya alam di Indonesia. Wilayah ini dibagi menjadi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Kedua daerah ini memiliki keunikan tersendiri.

Di NTT sendiri terdapat salah satu keajaiban dunia, yaitu Pulau Komodo. Buka hanya itu, Danau Kelimutu juga merupakan salah satu tempat wisata yang populer di NTT. Serta masih ada puluhan pulau yang memanjakan mata dengan keindahannya.

Sebagian besar penduduk asli NTT masih memiliki seni dan kebudayaan yang kental. Suku-suku besar yang mendiami kepulauan ini antara lain suku Dawan, Helong, Lio, Manggarai, Rote, Sabu, dan Sumba. Masing-masing suku ini memiliki latar belakang dan keanekaragaman yang berbeda.

Selain keindahan alam dan kulturnya, pakaian adat menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Tidak sedikit para turis yang ingin mengenal NTT lebih jauh. Dari semua suku yang ada di kepulauan ini, hanya ada empat yang memiliki pakaian adat.

Pakaian adat lengkap dengan aksesoris sebagai penanda akan keberadaan suku tersebut. Ada sedikit pembeda antara baju adat pria dan wanita, bahkan baju adat NTT anak juga memiliki perbedaan.

Macam-Macam Baju Adat NTT

Sudah dijelaskan sebelumnya, ada empat baju adat NTT yang akan dijelaskan berikut ini.

  1. Baju Adat Suku Dawan

Baju Adat Suku Dawan

Suku Dawan menyebar di beberapa daerah antara lain Kabupaten Belo, Kabupaten Kupang, dan Timor. Nama baju adat NTT yang dimiliki suku ini dikenal dengan pakaian Amarasi. Baju adat ini merupakan peninggalan kerajaan, dan namanya diambil dari salah satu daerah di Kabupaten Kupang.

Sampai saat ini, suku Dawan menjaga dan melestarikan warisan leluhur ini dengan sangat baik. Salah satunya dengan mengenakan pakaian adat dalam perayaan atau pesta. Terdapat perbedaan Amarasi yang dikenakan oleh pria dan wanita.

Amarasi yang dikenakan oleh pria terdiri dari selimut tenun dan pakaian tubuh atau biasanya menggunakan baju Bodo. Aksesoris tambahan lainnya antara lain kalung rumbai lengkap dengan keran, ikat kepala berhias mutiara sebagai mahkota, serta gelang muti salak.

Sementara untuk wanita, amarasi terdiri dari kebaya, saring tenun, dan selendang. Penghias kepala yang dikenakan antara lain gelang di kepala, sisir emas, dan jepit rambut. Sedangkan aksesoris pelengkapnya kalung muti salak.

Untuk wanita, penggunaan Amarasi sedikit lebih detail. Wanita membutuhkan dua lembar kain tenun untuk menutupi seluruh bagian badan. Kain tenun pertama disebut dengan tais yang dipasangkan dari atas dada hingga mata kaki. Kain tenun kedua diselempangkan di dada membentuk huruf V.

  1. Baju Adat Suku Helong

Baju Adat Suku Helong

Sebagian besar suku Helong bermukim di Kabupaten Kupang, Pulau Flores, dan Pulau Semau. Menurut beberapa sumber suku ini berasal dari Pulau Halong di Maluku. Mata pencaharian suku ini antara lain berkebun, berburu binatang, mencari ikan, serta membuat kerajinan tangan.

Suku Helong memiliki baju adat NTT yang dikenal dengan pakaian tradisional Helong. Pakaian yang digunakan khusus untuk pria antara lain selimut besar. Kain ini digunakan sebagai penutup bagian bawah. Cara menggunakannya diikat di pinggang.

Aksesoris pelengkap meliputi ikat kepala yang disebut dengan destar, dan menggunakan hapas atau kalung. Di zaman yang sudah modern ini, biasanya cowok dari suku Helong menggunakan kemeja untuk menutup bagian atas.

Perempuan suku Helong mengenakan kebaya dan kemben. Dilengkapi dengan aksesoris tambahan antara lain hiasan berbentuk bulan sabit yang diletakkan di kepala, ikat pinggang berwarna emas, sarung, anting, dan kalung dengan gantungan menyerupai bulan.

  1. Baju Adat Suku Rote

Baju Adat Suku Rote

Pakaian tradisional suku Rote mewakili baju adat NTT yang diperkenalkan secara nasional. Pemilihan ini tidak lepas dari desain yang unik, serta latar belakang sejarah yang menarik.

Sebelum serat kapas ditemukan, masyarakat suku Rote sudah membuat kain tenun dengan bahan dasar dari serat pohon lontar atau gawang. Saat itu, barang yang dihasilkan berupa lafe tei dan ti’i langga. Lafe tei merupakan kain lebar yang digunakan sebagai penutup tubuh sehari-hari.

Sedangkan ti’i langga adalah hiasan kepala yang menyerupai sombrero dari Meksiko. Ti’i langga merupakan aksesoris yang khusus digunakan oleh pria dewasa suku Rote. Hiasan kepala ini terbuat dari daun lontar kering.

Selain digunakan sebagai pelengkap pakaian, ti’i langga juga melambangkan sifat asli suku Rote, yaitu berwibawa dan memiliki kepercayaan diri tinggi. Wanita diperbolehkan menggunakan topi ini hanya disaat-saat tertentu. Seperti contohnya ketika mengikuti pertunjukan tari tradisional Foti.

Pria dari suku rote mengenakan kemeja putih polos sebagai atasan dan sarung tenun digunakan untuk menutupi bagian pinggang hingga betis. Kain tenun yang digunakan berwarna gelap dengan motif gambar flora atau fauna khas NTT.

Sebagai pelengkap, pada pinggang bagian depan diselipkan golok sebagai lambang kekuatan. Serta selendang tenun kecil yang diselempangkan pada bahu.

Pakaian tradisional wanita suku Rote memiliki perbedaan dengan yang dikenakan oleh pria. Untuk atasan menggunakan kebaya lengan pendek dan bawahan berupa sarung tenun. Motif sarung tenun yang dipilih adalah motif pohon tengkorak.

Hiasan pelengkap wanita juga lebih banyak, seperti hiasan kepala berbentuk bulan sabit dan tiga bintang, gelang dan anting berbentuk flora atau fauna khas NTT, serta kalung susun atau disebut dengan habas. Hiasan ini biasanya terbuat dari emas, kuningan, perak, atau perunggu.

  1. Baju Adat Suku Sabo

Baju Adat Suku Sabo

Suku Sabo merupakan salah satu suku yang mendiami Pulau Sawu dan Pulau Raijua. Pria dari suku Sabu mengenakan pakaian tradisional saat menikah yang terdiri dari selendang tenun yang digunakan di pundak.

Menggunakan hiasan kepala yang terbuat dari emas melambangkan kebesaran dan kehormatan. Serta menggunakan kalung muti salak berbentuk kuda poni dengan gong emas. Selain itu, pria juga diharuskan mengenakan sepasang gelang emas. Tidak lupa sabuk dengan dua kantong yang memiliki fungsi masing-masing.

Sementara pengantin wanita menggunakan kain selubung yang diikat di dada dan pinggul. Selama perayaan pernikahan, pengantin wanita diharuskan memakai ikat pinggang dari emas, gelang emas, serta gading. Hiasan kepala yang digunakan terbuat dari emas pada zaman kuno, anting berlian putih, serta habas emas.

Untuk pakaian sehari-hari wanita suku Sabo mengenakan kebaya pendek dengan bawahan kain tenun. Serta tidak menggunakan hiasan yang berlebihan, bahkan ada yang sama sekali tidak menggunakan aksesoris.

Baju adat NTT memiliki ciri khas sama, yaitu menggunakan kain tenun sebagai bahan utamanya. Meskipun zaman terus berkembang semakin modern, peninggalan nenek moyang ini masih terjaga kelestariannya. Hal ini tidak lepas dari campur tangan pemuda milenial yang turut melestarikan budaya asli Indonesia.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *