Baju Adat Sulawesi Utara

  • 4 min read
  • Jun 04, 2020
Baju Adat Sulawesi Utara

Provinsi Sulawesi Utara adalah provinsi yang beribu kota di Manado. Pada masa pemerintahan Presiden Indonesia ke-3, provinsi ini dipecah menjadi Sulawesi Utara dan Gorontalo. Provinsi Sulut merupakan provinsi dengan keanekaragaman suku dan budaya. Sehingga, tak heran jika wilayah ini memiliki beberapa baju adat Sulawesi Utara. Yuk simak di sini seperti apa baju-baju tersebut.

 

Keunikan Baju Adat Sulawesi Utara

Keunikan Baju Adat Sulawesi Utara

Seperti juga pakaian adat dari provinsi lain, baju adat Sulawesi utara memiliki keunikan tersendiri. Keunikan ini terlihat dari berbagai aspeknya. Salah satunya adalah bahan pembuat kain yang digunakan untuk membuat pakaian adat tertentu. Pakaian ini dibuat dari pelepah nanas atau pelepah kayu. Serat alami ini ditenun sehingga menciptakan kain halus serta dijahit sebagai pakaian.

Selain serat pelepah nanas, serat kofo juga digunakan untuk membuat kain yang nantinya akan digunakan untuk membuat pakaian adat. Serat tersebut berasal dari batang pohon pisang jenis tertentu. Meski demikian tidak semua suku membuat kain dari serat tumbuhan. Suku tertentu di provinsi ini juga mampu membuat kain nyaman dari kapas murni.

Keunikan lain dari baju adat Sulawesi Utara adalah aksesorisnya yang semarak dan menarik perhatian. Aksesoris ini menjadi pembeda utama antara baju adat dari suku yang satu dengan suku yang lain. Sehingga, pelengkap penampilan ini memiliki keutamaan yang cukup besar.

 

Nama Baju Adat Sulawesi Utara

Sulawesi utara merupakan rumah bagi suku Minahasa, Bolaang Mongondow, Gorontalo, dan Sangihe Talaud. Baju adat dari suku-suku tersebut terlihat sedikit sama. Meski demikian mereka memiliki ciri khas mereka sendiri-sendiri. Berikut ini ragam baju adat Sulawesi Utara.

  1. Pakaian Adat Minahasa

Pakaian Adat Minahasa

Suku Minahasa dapat dikatakan sebagai suku mayoritas di Sulut. Orang Minahasa biasanya disebut orang Manado oleh masyarakat luar. Suku ini memiliki baju adat yang unik, yaitu terbuat dari serat kulit kayu. Meski demikian, pakaian adat seperti ini mulai langka. Saat ini, pakaian adat Minahasa juga terbuat dari kain-kain modern.

Pakaian adat wanita Minahasa disebut Karai Momo berupa kebaya putih berlengan panjang. Kebaya ini dihiasi dengan sulaman bunga kelapa dan bunga padi. Untuk memadukan pakaian ini, para wanita Minahasa mengenakan rok panjang model duyung dengan warna yang sama dari kain sarung bersulam. Selain itu, mereka juga mengenakan kalung dan mahkota.

Pakaian adat pria Minahasa memiliki bentuk yang cukup sederhana dan disebut baniang. Busana ini berupa kemeja lengan panjang berwarna hitam. Kemeja ini dihiasi dengan sulaman padi, ular dan kelapa. Untuk melengkapi pakaian ini, pria Minahasa mengenakan celana panjang hitam, ikat pinggang, dan semacam peci.

  1. Pakaian Adat Bolaang Mangondow

Pakaian Adat Bolaang Mangondow

Daerah Bolaang Mongondow merupakan area yang memiliki banyak pakaian adat. Salah satunya karena dahulu ada empat kerajaan yang pernah berdiri di wilayah ini. Selain itu, pakaian adat di daerah ini dibedakan berdasarkan pada tingkatan kedudukan seseorang. Busana adat  tersebut biasanya terbuat dari serat pelepah nanas atau serat kayu.

Pada dasarnya, pakaian adat dari wilayah ini berupa salu (semacam kebaya) untuk perempuan yang dipadukan dengan kain tenun untuk bawahannya. Pakaian untuk pria pada umumnya berupa baniang (kemeja lengan panjang), celana panjang, sarung tenun selutut, dan mangilensi (ikat kepala).

Pakaian Adat Bolaang Mongondow dibedakan menjadi:

  • Busana Bangsawan: pakaian ini memiliki warna-warna serta hiasan yang lebih mencolok. Selain itu, variasinya juga lebih banyak karena setiap upacara adat mengharuskan bangsawan untuk mengenakan pakaian yang berbeda.
  • Busana Kohongian: busana ini biasanya digunakan oleh kalangan menengah atas (di bawah bangsawan) untuk menghadiri pesta pernikahan.
  • Busana Simpal: baju adat Sulawesi Utara ini umumnya dikenakan oleh pegawai pemerintahan kerajaan untuk menghadiri pesta pernikahan.
  • Busana Kerja Guha-Ngea: baju ini khusus dikenakan oleh pemangku adat ketika melaksanakan upacara kerajaan.
  • Pakaian rakyat biasa: baju ini sederhana dan khusus dikenakan oleh rakyat biasa dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat memanen padi.

 

  1. Pakaian Adat Sangihe Talaud

Pakaian Adat Sangihe Talaud

Busana khas masyarakat Sangihe Talaud ini dibuat dari kain yang ditenun dari serat kofo. Pada upacara tertentu, pakaian yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan sama. Busana ini terdiri dari laku tepu dengan warna mencolok misalnya kuning, hijau, merah, dan ungu. Model pakaian ini seperti gaun atau gamis dengan lengan panjang.

Ada berbagai pelengkap atau aksesoris yang digunakan ketika memakai busana tersebut. Beberapa diantaranya adalah kawihu (rok berumbai), pa porong (hiasan kepala), popehe (semacam ikat pinggang), dan bandang (selendang)

  1. Pakaian Adat Tonaas Wangko serta Walian Wangko

Pakaian Adat Tonaas Wangko serta Walian Wangko

Pakaian Tonaas Wangko adalah baju pemuka adat. Busana ini berupa kemeja berkancing dengan lengan panjang serta kerah tinggi. Hampir semua pakaian ini berwarna hitam dan berhiaskan motif berwarna kuning emas. Pria yang mengenakan baju ini biasanya juga memakai penutup kepala berwarna merah bermotif bunga padi keemasan.

Busana Walian Wangko hampir sama seperti Tonaas Wangko. Namun, baju ini lebih panjang dan mirip jubah. Biasanya baju ini berwarna putih dan berhiaskan bunga padi keemasan. Untuk melengkapi busana ini, para pria mengenakan penutup kepala yang disebut porong nimiles.

Untuk wanita, pakaian Walian Wangko terdiri dari kebaya panjang berwarna ungu atau putih dan kain sarong berwarna gelap sebagai bawahan. Sedangkan aksesorisnya adalah topi mahkota, selempang, kalung, dan selop.

  1. Pakaian Adat Gorontalo

Pakaian Adat Gorontalo

Meski Gorontalo telah dipisahkan dari Sulut, namun pakaian adatnya masih memiliki sedikit pengaruh di Sulut. Pakaian adat yang sering digunakan adalah Biliu untuk perempuan dan Makuta untuk pria. Busana ini biasanya digunakan dalam resepsi pernikahan.

 

Baju Pengantin Khas Sulawesi Utara

Baju Pengantin Khas Sulawesi Utara

Busana pengantin khas Sulawesi Utara ada beberapa macam tergantung suku kedua mempelai yang menikah. Untuk mempelai dari suku Minahasa, pengantin wanita biasanya mengenakan Karai Momo dan rok panjang model duyung. Sedangkan pengantin pria mengenakan Baniang dan celana panjang. Dalam prosesi pernikahannya, mereka mengenakan aksesoris lengkap dari mahkota hingga selop.

Untuk pengantin suku Bolaang Mongondow, mempelai wanita biasanya mengenakan salu dan mempelai wanita mengenakan Baniang yang biasanya digunakan oleh bangsawan kerajaan. Sedangkan untuk pengantin suku Sangihe Talaud mengenakan laku tepu. Sekilas, busana-busana tersebut cukup mirip. Namun, aksesoris yang digunakan oleh pengantin dari berbagai suku tersebut berbeda.

 

Baju Adat Sulawesi Utara untuk Anak

Baju Adat Sulawesi Utara untuk Anak

Baju adat anak-anak dari Sulawesi Utara merupakan miniatur dari baju adat dewasa. Namun, jika pakaian adat untuk orang dewasa dibuat dari serat alam, maka pakaian untuk anak-anak dibuat dari kain yang lebih modern. Selain itu, aksesoris maupun hiasan pakaiannya juga tidak serumit milik orang dewasa.

Baju adat Sulawesi Utara sekilas tampak memiliki model yang sederhana. Meski demikian, pakaian ini memiliki nilai keunikan yang tinggi jika dilihat dari bahan dasar pembuatnya. Oleh sebab itu, harga pakaian ini cukup mahal. Sehingga, tak heran jika banyak orang lebih memilih untuk memperolehnya dari jasa sewa baju adat daripada membelinya.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *