Baju Adat NTB

  • 4 min read
  • Jun 08, 2020
Baju Adat NTB

Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan Provinsi yang letaknya berada di kepulauan Nusa Tenggara dan memiliki beberapa pulau kecil. Terdapat dua pulau besar yang ada di wilayah NTB, yaitu Lombok dan Sumbawa. Masing-masing pulau tersebut memiliki baju adat NTB dari dua suku berbeda.

Pulau Lombok sendiri dihuni oleh suku Sasak dan Pulau Sumbawa ditinggali oleh suku Bima. Kedua suku ini memiliki ciri khas dan keunikan pada baju adatnya. Budyayanesia akan membahas tentang arti dan makna dari pakaian adat khas NTB.

 

Keunikan Baju Adat NTB

Keunikan Baju Adat NTB

Pakaian adat khas NTB menjadi salah satu objek yang seringkali mengalihkan perhatian para wisatawan ketika berkunjung ke sana. Sebab, pakaian adat di Provinsi ini memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Masyarakat NTB sangat menjaga nilai-nilai budayanya melalui pakaian adat tersebut.

Keunikan pakaian adat khas NTB terletak pada suku Dayak dan suku Bima. Kedua suku tersebut masih menggunakan pakaian adat untuk berbagai kegiatan penting, seperti upacara adat, pernikahan, dan lainnya.

Pakaian adat khas NTB juga populer dengan kain songketnya yang terlihat mewah dan elegan. Sebab, kain tersebut merupakan salah satu ciri khas yang terdapat dalam pakaian adat milik NTB. Tak heran, banyak wisatawan yang berkunjung ke NTB untuk melihat keindahan pakaian adat tersebut.

 

Nama-nama Baju Adat NTB

 

Bagi kamu yang belum tahu, berikut ini adalah nama dan jenis pakaian adat khas NTB dari suku Dayak dan suku Bima:

  1. Baju Adat Suku Sasak

Baju Adat Suku Sasak

Baju adat suku Sasak memiliki dua fungsi, yaitu untuk laki-laki dan perempuan. Pakaian tradisional ini memiliki karakter yang cukup unik. Pakaian adat suku Sasak terbagi menjadi dua jenis, yakni Pegon dan Lambung. Berikut adalah penjelasannya:

  • Baju Adat Pegon

Pakaian adat Pegon dikhususkan untuk pria. Pegon berasal dari kebudayaan Eropa dan Jawa yang dibawa ke NTB pada zaman dahulu. Pakaian ini berbentuk jas berwarna hitam yang dilengkapi Wiron, yaitu bawahan bermotif nangka yang terbuat dari kain pelung hitam.

Selain itu, ada beberapa aksesoris yang digunakan dalam pakaian adat ini, seperti Capuq (ikat kepala yang mirip dengan udeng khas Bali) dan Leang (ikat pinggang berbentuk kain songket dengan sulam benang emas), dan keris yang diselipkan di belakang ikat pinggang.

Umumnya, para pemangku adat suku ini menggunakan selendang bernama umbak dengan warna hitam, merah, dan putih yang memiliki panjang empat meter.

  • Baju Adat Lambung

Pakaian adat Lambung merupakan baju adat NTB wanita. Baju adat Lambung digunakan untuk menyambut kedatangan para tamu. Selain itu, Lambung juga dikenakan saat upacara adat bernama Mendakin atau Nyongkol.

Pakaian ini berbentuk baju dengan warna hitam dan kerah berhuruf V tanpa adanya lengan. Keunikan yang ada dalam baju ini adalah manik-manik yang ada di bagian tepi jahitan. Kemudian, Lambung juga dilengkapi dengan selendang bercorak Ragi Genep di bagian bahu kiri dan kanan.

Berberapa aksesoris yang digunakan dalam baju adat Lambung adalah gelang tangan dan gelang kaki dari perak anting bulat yang terbuat dari daun lontar. Lalu, ada juga bunga mawar yang diselipkan di sanggul rambut dengan model Punjung Pliset.

Bagian bawahan pakaian adat Lambung menggunakan kain panjang yang dibalutkan ke bagian pinggang. Kemudian, juga dilengkapi sabuk atau disebut dengan Sabuk Anteng berupa kain yang bagian ujungnya dijulurkan ke pinggang sebelah kiri.

  1. Baju Adat suku Bima

Baju Adat suku Bima

Baju adat khas suku Bima disebut dengan Rimpu. Pakaian ini memiliki bentuk yang hampir mirip dengan hijab atau mukena. Rimpu memiliki dua bagian, yakni untuk menutupi kepala hingga perut dan menutupi perut hingga kaki.

Sama seperti baju adat lainnya, Rimpu memiliki beberapa dua fungsi, seperti Rimpu Cili untuk perempuan dengan status belum menikah dan Rimpu Colo untuk perempuan dengan status telah menikah. Rimpu Cili digunakan untuk menutupi seluruh bagian tubuh (kecuali mata), lalu Rimpu Colo berfungsi untuk menutupi seluruh bagian tubuh (kecuali wajah).

Kaum pria menggunakan ikat kepala yang terbuat dari kain tenun atau Sambolo. Kain ini dipakai pada bagian ujung dan melingkari kepala. Untuk atasannya, baju adat suku Bima memiliki bentuk yang sama dengan kemeja berlengan panjang. Sementara untuk bawahannya, menggunakan sarung songket atau disebut dengan Tembe Me’e.

Selain itu, bagian bawahannya juga dilengkapi dengan selendang yang digunakan sebagai ikat pinggang bernama Salepe.

 

Baju Adat NTB untuk Menikah

Baju Adat NTB untuk Menikah

Pakaian adat khas NTB untuk menikah berasal dari suku Sumbawa. Pakaian adat Sumbawa juga terbuat dari bahan kain songket. Kain songket sendiri umumnya menggunakan benang berwarna emas dan perak atau disebut dengan Selungka.

Pakaian adat untuk pengantin laki-laki disebut dengan Gadu. Pakaian tersebut berbentuk baju lengan panjang warna hitam yang dilengkapi hiasan cepa (bunga) emas. Kemudian, ada juga kain merah bernama Simbanga dengan motif bunga yang disilangkan di bagian atas baju.

Bagian bawahannya sendiri menggunakan celana panjang warna hitam yang telah dihias di bagian pinggir celana. Celana panjang ini juga dipadukan dengan Tope, yakni rok yang terbuat dari kain halus berwarna merah dan dihiasi cepa emas berukuran besar. Tope berfungsi sebagai ikat pinggang emas.

Pengantin perempuan menggunakan pakaian adat bernama Lamung Naju. Pakaian adat tersebut merupakan budaya turun temurun dari keturunan bangsawan. Lamung Naju memiliki lengan pendek dengan model bodo Sulawesi yang terbuat dari kain berbahan halus. Kemudian, terdapat sulam emas dengan bentuk cepa.

Pada bagian bahu sebelah kiri terdapat sapu tangan bermotif daun yang terbuat dari benang perak atau pun emas. Sapu tangan tersebut biasa disebut dengan Kida Sanging. Untuk bawahannya, mengenakan rok panjang atau Tope Belo dan rok pendek yang disebut dengan Tope Pene yang dihias motif bunga.

Selain itu, pengantin perempuan juga menggunakan hiasan kepala bernama Sua yang dilengkapi dengan kembang goyang. Kemudian, ada juga Puyung Lakang atau sanggul rambut dengan menggunakan beberapa perhiasan, seperti anting, kalung, hingga hiasan kuku untuk ibu jari dari emas berbentuk kuku panjang yang dijadikan alas kaki.

Pakaian adat khas NTB juga tidak hanya dikenakan oleh laki-laki dan perempuan dewasa, namun anak-anak juga bisa menggunakannya. Saat ini, sudah banyak sanggar atau tempat sewa baju adat khas NTB untuk anak-anak.

Kamu bisa menemukannya di internet atau platform marketplace. Harga penyewaan baju adat NTB anak pun bervariatif, yaitu mulai dari Rp100.000 hingga Rp500.000. Biasanya, anak-anak membutuhkan baju adat untuk perayaan hari nasional, seperti Hari Kartini.

Baju adat NTB telah merupakan kebudayaan yang hingga saat ini masih dilestarikan. Maka dari itu, masyarakat NTB sangat menjaga kebudayaannya agar terus dikenal oleh dunia. Selain itu, kamu juga mendapatkan wawasan tentang kebudayaan NTB melalui pakaian adatnya yang mendunia.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *