Baju Adat Makassar

Baju Adat Makassar

Budaya Indonesia begitu beragam. Di Sulawesi Selatan tepatnya Kota Makassar misalnya, suku asli mereka adalah suku Bugis. Hal ini membuat budaya yang diterapkan mengambil dari adat dan tradisi yang sudah lebih dulu dikenalkan oleh suku tersebut. Mulai dari penggunaan baju adat Makassar atau pakaian tradisional Makassar, hingga tradisi-tradisi yang tidak dilepas saat menjalani aktivitas sehari-hari.

Baju adat suku Bugis lebih banyak dikenal dengan jenis baju Bodo. Sebenarnya, tidak hanya itu, ada jenis-jenis pakaian adat lain yang umum digunakan. Masing-masing jenis memiliki keunikan dan tampilan desain yang seiring waktu mengalami perubahan untuk menyesuaikan zaman. Untuk lebih lengkap, Budyayanesia dapat membaca ulasannya berikut ini.

Keunikan Baju Adat Makassar

Keunikan Baju Adat Makasar

Perubahan tampilan baju adat khas Sulawesi Selatan ini bisa diperhatikan dari penggunaan kain dan warna yang dipilih. Contohnya baju Bodo. Dahulu pakaian ini dirancang menggunakan kain yang berserat renggang dan tipis. Sehingga ketika digunakan akan terlihat samar bentuk tubuh penggunaannya. Setelah zaman berganti, kain yang diaplikasikan pun diganti oleh serat lebih rapat dan tebal.

Membuatnya tidak lagi menunjukan bentuk tubuh atau tidak lagi terlihat transparan. Baju adat daerah ini rata-rata terlihat berwarna-warni yang cenderung cerah. Pemilihan warna tersebut berhubungan dengan usia penggunanya. Selain itu juga dibedakan dari kasta atau kedudukan seseorang.

Seperti warna orange dan merah yang diperuntukan anak usia 10 tahun ke bawah. Lalu warna merah darah untuk usia 17 hingga 25 tahun. Ada juga warna hijau yang diperuntukan bagi para kaum dan keturunan bangsawan. Sedangkan warna ungu digunakan oleh para janda, para wanita yang tidak lagi bersama dengan pasangannya.

Keunikan pakaian adat daerah Makassar ini bisa dilihat juga dari perpaduannya penggunaan aksesoris dan kain yang dipasangkan. Baik bagi perempuan, maupun laki-laki. Biasanya akasesoris beraksen emas akan melengkapi penampilan ketika mengenakan baju adat, disertai riasan wajah dan rambut yang memberi kesan berbeda.

Jenis-jenis baju adat Makassar

  • Baju Bodo

Baju Bodo

Baju Bodo paling banyak dikenal sebagai baju adat khas Makassar yang digunakan oleh para wanita keturunan Suku Bugis. Desain dari setelan ini berupa atasan yang berbentuk persegi dengan lengan pendek. Baju ini sendiri termasuk baju adat tertua di Indonesia karena melihat dari sejarahnya, Bodo telah dikenakan masyarakat Bugis sejak ratusan tahun yang lalu.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, beberapa baju adat memiliki pilihan warna yang disesuaikan usia dan kasta, Bodo pun termasuk menggunakan aturan ini.

  • Baju Tutu

Baju Tutu

Bila Bodo digunakan oleh para perempuan, Tutu merupakan baju ada yang digunakan laki-laki. Baju ini sering disebut ‘jas Tutu’. Pakaian utama dan aksesoris pelengkapnya berupa celana paroci, lipa garusuk (sejenis sarung), dan songkok atau tutup kepala khas Bugis.

Bentuk Tutu memang tidak seperti jas pada umumnya yang biasa berfungsi menjadi outer. Tutu memiliki desain lengan panjang, terdapat kerah menutupi leher, dilengkapi kancing-kancing berwarna keemasan atau perak, juga terdapat bordiran yang disesuaikan.

Sementara itu untuk lipa garusuk biasanya berwarna terang bermotif polos. Warna yang umum dipakai ialah hijau dan merah. Tutu juga dipakai sebagai baju adat Makassar anak laki-laki berbagai usia.

  • Baju Pokko

Baju Pokko

Kemudian ada baju adat Pokko yang merupakan baju adat khas suku Toraja. Suku Toraja berasal dari Tana Toraja yang letaknya tidak jauh dari Makassar. Para wanita Toraja mengenakan Pokko dengan menggunakan desain yang sekilas tidak berbeda jauh dengan Bodo. Perbedaannya terletak pada cara pakai dan pelengkap yang menempel pada pakaian.

Atasan Pokko tidak begitu persegi, lengannya pendek, tidak memakai motif khusus. Warna baju ini didominasi merah, hijau, kuning, dan putih. Sampai saat ini baju Pokko masih dikenakan pada aktivitas sehari-hari bagi para PNS di Tana Toraja setiap akhir pekan.

  • Baju Seppa Tallung

Baju Seppa Tallung

Selanjutnya, bagi para pria keturunan suku Toraja memiliki baju adat yang bernama Seppa Tallung. Bentuk desainnya berupa atasan yang panjangnya mencapai lutut. Pelengkap baju ini di antaranya gayang, kandaure, lipa, dan lainnya. Perkembangan zaman membuat tampilan Seppa Tallung dimodifikasi lebih modern.

Sebelumnya Seppa Tallung memiliki desain dan bentuk yang dinamakan Seppa Tallung Buku. Di tahun 2011, Seppa Tallung pernah mencuri perhatian dunia karena muncul dalam acara Manhut Internasional yang digelar di Korea Selatan.

  • Baju Pattuqduq Towaine

Baju Pattuqduq Towaine

Baju adat lainnya yang menjadi bagian budaya Sulawesi Selatan ialah Pattuqduq Towaine. Baju Pattuqduq dikenakan oleh keturunan suku Mandar pada saat acara pesta pernikahan. Selain itu juga dipakai saat ada acara menari tarian Pattiqttuq. Lapisan dan potongan Pattuqduq cukup banyak yaitu 18 potong dan 24 potong.

Potongan 18 digunakan untuk acara menari, sementara 24 potong untuk acara pernikahan. Pattuqduq terdiri dari beberapa jenis baju di antaranya ada Pokkoq dan Rawang Boko. Hiasan juga motif yang menempel di baju-baju tersebut sangat beragam dan bervariasi.

Begitu pun aksesoris yang dipilih oleh penggunanya pada baju adat Makassar cantik ini. Mulai dari hiasan kepala, badan, serta di bagian tangan yang menggambarkan keindahan budaya khas suku Mandar.

  • Pakaian Adat Pengantin Makassar

Pakaian Adat Pengantin Makasar

Dalam acara pernikahan, baju atau pakaian adat yang dikenakan semua tergantung pada pihak pengantin dan keluarga. Umumnya pengantin menggunakan baju Tutu bagi laki-laki dan Bodo untuk perempuan. Pemilihan warna disesuaikan, begitu pun model dan motif yang saling disatukan satu sama lain.

Pengantin wanita bermain dengan tampilan riasan wajah dan model rambut yang disempurnakan dengan aksesoris menarik. Penggunaan aksesoris jumlahnya akan sangat banyak dan digunakan dari ujung rambut, leher, hingga ke pergelangan tangan menggunakan tumpukan gelang yang sangat banyak di kedua tangan.

Penggunaan Baju Adat Makassar

Penggunaan Baju Adat Makasar

Memang dari waktu ke waktu semakin berkurang yang menerapkan penggunaan baju adat dalam acara-acara penting. Kamu pasti sering sekali melihat sebagian masyarakat memilih menggunakan konsep modern pada setiap acara pesta pernikahannya. Namun bagi sebagian masyarakat yang masih melestarikan budaya, khususnya di Sulawesi Selatan, baju-baju adat tetap harus dipakai.

Baju adat modifikasi bisa menjadi pilihan jika ingin mencampur kedua budaya. Tetap melestarikan warisan budaya asli sekaligus memberi sentuhan modern. Hal ini bisa diterapkan pada baju adat Makassar yang didesain menggunakan warna lebih soft atau netral.

Lalu pada bagian riasan dan aksesoris pun berdesain lebih modern seperti warna emas yang diganti memakai rose gold. Sementara itu pada bagian kain pelengkap dipilih menggunakan motif yang tidak terlalu ramai, tetapi tetap menggambarkan keindahan dan keunikan sebagai pakaian adat khas.

Misalnya perpaduan desain baju Bodo dengan kebaya modern, ataupun untuk Pattuqduq Towaine yang dikenakan sebagai seragam menari, bisa divariasikan menggunakan lebih banyak warna dan aksesoris senada. Seperti desain kalung dan anting yang dibuat lebih sederhana, tetapi tetap terlihat elegan.

Keberagaman yang terdapat pada baju adat Makassar dapat menjadi gambaran bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar. Ciri khas, aturan penggunaan, hingga hadirnya aksesoris yang digunakan membuat perlu dijaga sebagai warisan nenek moyang.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *