Rumah Adat Suku Asmat

  • Budayanesia
  • Jun 19, 2022
Rumah Adat Suku Asmat

Asmat merupakan nama sebuah suku yang mendiami Provinsi Papua. Suku ini terbagi menjadi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir dan yang tinggal di pedalaman. Kedua populasi ini mempunyai rumah adat suku Asmat yang dinamakan dengan jew.

Rumah jew ini umumnya terbuat dari kayu yang selalu dipasang menghadap ke sungai. Umumnya, rumah adat khas suku Asmat ini memiliki luas 10 × 15 meter. Sementara tiangnya dibuat menggunakan kayu besi yang kemudian diukir dengan ukiran Asmat. Mau mengenal lebih mengenai rumah adat ini?

Nama dan Asal Rumah Adat Suku Asmat

Nama dan Asal Rumah Adat Suku Asmat

Suku Asmat memiliki sebuah rumah adat. Nama rumah adat suku Asmat sendiri adalah jew atau sering disebut dengan nama rumah bujang. Rumah adat jew ini berbentuk rumah panggung dengan luas 0-15 meter, namun ada pula yang panjangnya mencapai 50 meter dengan lebar belasan meter.

Rumah ini mempunyai kedudukan khusus dalam tatanan masyarakat suku Asmat, karena dibangun untuk kepentingan khusus, misal melaksanakan kegiatan adat Asmat.

Rumah jew yang berasal dari Papua ini juga berfungsi sebagai tempat berdiskusi atau musyawarah tentang segala hal yang berkaitan dengan kehidupan warga.

Ya, rumah ini biasanya dibuat sebagai pertemuan adat, tempat membuat kerajinan tangan, ukiran kayu, tempat untuk merencanakan perang, hingga pengambilan keputusan mengenai kampung dan tempat tinggal mereka dari para lelaki lajang suku Asmat.

Dikarenakan rumah jew ini mempunyai banyak sekali fungsi, maka rumah adat ini juga dikenal sebagai “rumah bujangan” oleh masyarakat setempat.

Selain itu, rumah bujangan ini berfungsi sebagai rumah ibadah yang suci dan tempat upacara keagamaan. Bukan hanya itu saja, rumah jew ini merupakan tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat suku Asmat.

Maka dari itu, ada beberapa aturan adat yang harus dipelajari dan dipahami masyarakat Asmat saat membuat Asmat Jew, termasuk syarat-syarat renovasi rumahnya.

Sejarah dan Filosofi Rumah Adat Suku Asmat

Rumah Adat Suku Asmat

Rumah adat suku Asmat adalah jew yang memiliki fungsi yang amat beragam, mulai dari tempat berkumpulnya warga hingga menjadi tempat beribadah.

Bahkan, menurut sejarahnya rumah  ini juga digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata suku Asmat seperti tombak, panah untuk berburu, noken, yaitu tas yang terbuat dari anyaman ijuk, dll.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, noken yang disimpan di rumah jew ini tidak boleh sembarangan disentuh oleh siapapun.

Hal ini dikarenakan noken amat dipercaya mampu untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan syarat dan ketentuan tertentu. Ketika membangun rumah Jew, harus ada beberapa aturan yang perlu dilakukan oleh suku Asmat, yaitu:

 

  1. Dibuat dari kayu yang selalu dipasang menghadap ke sungai.
  2. Umumnya memiliki luas 10 × 15 meter.
  3. Tiangnya menggunakan kayu besi yang kemudian diukir dengan ukiran Asmat.
  4. Atap rumah terbuat dari anyaman daun sagu atau daun lontar.
  5. Tidak menggunakan paku dalam pembuatannya tetapi menggunakan tali dari rotan atau akar tanaman.

 

Semua bahan material struktural bangunan di atas semuanya benar-benar dari bahan alami karena memiliki makna dan fungsi spiritual. Jadi, semua aturan dalam membuat rumah jew yang disebutkan di atas memiliki filosofi.

Filosofinya adalah bahan yang telah suku Asmat ambil dari hutan langsung ini dipercaya akan membuat leluhur bisa melebur bersama dengan semesta. Leluhur yang turut melebur di dalam rumah akan bisa memberikan perlindungan pada rumah adat jew.

Selain disebut dengan istilah jew, suku Asmat juga menamakan rumah adat ini dengan istilah lain seperti Yeu atau Je. Arti kata jew  dalam bahasa Asmat adalah ruh.

Maka dari itu, kehadiran rumah adat jew diharapkan bisa diartikan sebagai sebuah ruh yang mampu untuk membangkitkan keingintahuan dalam diri seseorang, agar mau menyatu ke dalam kehidupan masyarakat dan saling membaur di dalamnya.

 

Bagian-Bagian/Komponen Rumah Adat Suku Asmat

Menurut Brainly, suku Asmat percaya bahwa mereka adalah keturunan dewa, yang turun dari dunia gaib di seberang lautan di balik cakrawala tempat di mana matahari terbenam setiap harinya.

Berdasarkan kepercayaan suku Asmat, dewa leluhur dulu pernah mendarat di bumi yang tempatnya jauh di pegunungan.

Dalam perjalanannya ke hilir hingga sampai di tempat yang kini dihuni oleh masyarakat Asmat hilir, ia banyak berpetualang. Tidak heran jika rumah-rumah adat suku Asmat ini masih harus menghadap ke sungai dan memiliki berbagai aturan ketika dibangun.

Ada beberapa komponen menarik dari rumah adat suku Asmat yang dibangun oleh masyarakat setempat di antaranya:

1.     Atap Rumah dari Daun Sagu

Rumah Adat Suku Asmat

Jika kebanyakan atap rumah dibuat dari genteng, maka lain halnya dengan jew yang ada di Papua ini. Atap rumah harus dibuat dari bahan daun sagu dan dikombinasi dengan daun nipah.

Daun nipah dan sagu bisa bertahan hingga 5 tahun lamanya dan tahan terhadap kondisi cuaca apapun sehingga aman sekali digunakan untuk bahan bangunan rumah.

2.     Pondasi dari Kayu Besi

Rumah Adat Suku Asmat

Komponen pondasi yang digunakan untuk membuat rumah adat jew adalah kayu besi. Bahan material satu ini sangat penting untuk digunakan karena sifatnya yang kuat. Selain kuat, pondasi dari kayu besi ini juga tahan terhadap air mengingat rumah jew ini letaknya ada di daerah pesisir dan rawa.

3.     Tali Rotan

Rumah Adat Suku Asmat

Komponen terakhir yang harus digunakan ketika membuat rumah adat jew adalah tali rotan. Jadi, dalam membuat bangunannya, suku Asmat tidak menggunakan paku untuk membuat semua bahan menyatu.

Bahan yang digunakan untuk menyatukan semua material alami adalah tali rotan. Suku Asmat akan mengikat semua sambungan dari kayu agar bangunan lebih kuat.

Keunikan Rumah Adat Suku Asmat

Jew hadir dengan berbagai keunikan yang tidak dimiliki oleh rumah adat lainnya mulai dari kehadirannya yang multifungsi, dibuat dengan bahan-bahan alami dan cara mengukur panjang bangunannya. Berikut keunikan beserta penjelasannya:

1.     Multifungsi

Rumah Adat Suku Asmat

Rumah adat jew sangat multifungsi karena tidak hanya sebagai tempat tinggal melainkan digunakan untuk rapat bersama seluruh warga, rumah beribadah, tempat untuk menyelenggarakan upacara adat hingga digunakan untuk menyimpan berbagai jenis senjata.

2.     Dibuat dari Bahan Alami

Dibuat dari Bahan Alami

Hampir semua material yang digunakan untuk membuat rumah adat suku Asmat ini dari bahan-bahan alami. Pemilihan bahan alami ini dipercaya oleh suku Asmat bahwa leluhur akan membantu proses pembangunan dan melebur di dalam rumah yang akan dibangun.

Ya, mengingat suku Asmat adalah penganut kepercayaan animisme dan dinamisme, maka tidak heran jika mereka percaya bahwa setiap bahan alami yang diambil langsung untuk membangun rumah akan melebur bersama leluhur.

3.     Panjang Rumah Disesuaikan dengan Jumlah Keluarga

Panjang Rumah Disesuaikan dengan Jumlah Keluarga

Uniknya ketika membangun rumah adat jew ini adalah bahwa semakin banyak anggota dalam keluarganya, maka akan semakin panjang pula bangunan rumah. Tidak hanya itu saja, jumlah anggota yang semakin banyak ini juga mempengaruhi jumlah pintu.

Menariknya, semua aturan dalam membuat rumah adat suku Asmat jew ini masih dipercaya hingga saat ini. Ya, meskipun sekarang sudah banyak masyarakat suku Asmat yang terpengaruh oleh globalisasi dan modernisasi, kepercayaan ini masih mengakar kuat kepada mereka.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.