Rumah Adat Suku Nias

Rumah Adat Suku Nias

Banyak orang Indonesia memiliki pakaian adat dan rumah adat berdasarkan kepercayaan mereka nenek moyang secara turun-temurun, tanpa mengetahui alasan ilmiah. Rumah adat suku Nias adalah salah satunya. Dua rumah adat di  Nias dipengaruhi oleh kepercayaan nenek moyang.

Faktor geografis seperti dataran tinggi dan dataran rendah serta kepercayaan tidak hanya mempengaruhi bentuk rumah tetapi juga struktur rumahnya. Terletak di garis patahan gempa, rumah adat Nias dirancang untuk tahan terhadap goncangan gempa bumi yang sering menimpa.

Rumah Adat Suku Nias

1.     Omo Hada

Rumah Adat Suku Nias

Omo hada laraga adalah nama rumah adat Nias Utara yang mempunyai bentuk lonjong. Bangunan rumah ini sengaja dibuat lonjong karena menunjukkan keharmonisan dalam setiap keluarga. Bangunan omo hada rata-rata ada di bagian Nias Utara.

Nias Utara sendiri merupakan kawasan yang terletak di dataran tinggi dan penduduknya berpenghasilan menengah ke bawah. Hampir masyarakatnya hidup dengan pendapatan minim sebagai petani, sehingga setiap rumah membutuhkan lahan yang luas.

Pola pemukiman Nias selalu berupa sumbu garis lurus dan juga selalu berorientasi pada arah utara-selatan, sedangkan pintu masuk desa selalu berada di barat atau timur.

Hal ini menunjukkan suku Nias sudah tahu tentang bagaimana menempatkan bangunan mereka dengan mengacu pada iklim dan arah matahari. Beberapa keunikan dan filosofi bangunan yang dimiliki oleh rumah odo hada sendiri adalah:

–       Semua Rumah Ada Pintu Gerbang

Rumah Adat Suku Nias

Semua rumah di Nias Utara ini memiliki pintu gerbang untuk memberikan akses ke jalan menuju sawah dan kebun, sedangkan pintu dari ujung lainnya mengarah ke belakang dan dihubungkan ke fasilitas umum atau kuburan.

Pola unik dari bangunan rumah omo hada ini membuat orang akan terheran-heran karena setiap rumah adat akan memiliki lorong yang sangat panjang dengan rumah-rumah di kedua sisinya.

–       Mempunyai Tingkatan Rumah

Rumah Adat Suku Nias

Ada beberapa tingkatan dalam rumah omo hada. Masyarakat suku Nias biasanya menempatkan bagian atas bangunan omo hada sebagai tempat yang paling suci. Sementara tempat yang lebih rendah digunakan untuk taman dan kandang hewan peliharaan.

Dulu, saat masih terjadi perang, umumnya pemukiman rumah omo hada dibuat dengan setinggi mungkin karena digunakan untuk memata-matai gerakan musuh.

–       Semua Rumah Menghadap Jalan dan Saling Terhubung

Rumah Adat Suku Nias

Keunikan lainnya dari rumah suku Nias ini adalah semuanya selalu menghadap ke jalan. Satu rumah dan rumah lainnya saling terhubung, sehingga atap di setiap rumah dibuat menjorok ke depan lorong. Setiap rumah satu dengan yang lainnya juga saling terhubung.

Ya, dari satu ujung pemukiman ke ujung pemukiman lainnya semua rumah akan terhubung karena  setiap rumah memiliki pintu penghubung dengan rumah di bagian kanan kiri. Filosofi dari struktur bangunan ini menunjukkan adanya kesetaraan dan keterbukaan di antara penghuninya.

Jika ada pesta besar di desa, maka jalan setapak yang menghubungkan rumah akan menjadi tempat untuk menonton pertunjukan dan rumah yang saling terhubung akan berfungsi menjadi dapur.

–       Tahan Gempa

Rumah Adat Suku Nias

Pulau Nias  terletak di daerah rawan gempa  bumi. Oleh karena itu, nenek moyang masyarakat Nias telah menginisiasi secara tradisional rumah yang tahan gempa. Rumah omo hada dibentuk dengan struktur utama yang membentuk salib tiang penyangga rumah.

Tiang ini berfungsi agar rumah tetap lentur dan tahan pada goncangan gempa. Ya, tidak akan ada kerusakan pada struktur rumah saat rumah nantinya diguncang oleh gempa bumi.

2.     Omo Sebua

Omo Sebua

Rumah adat khas suku Nias menurut Brainly selanjutnya adalah omo sebua. Berbeda dengan omo hada yang digunakan untuk tempat tinggal, maka omo sebua ini sengaja dibuat untuk kepala suku. Bentuk rumah kepala suku mempunyai corak atap yang lebih dominan dibandingkan dengan rumah lainnya.

Rumah terdiri dari tipe moro dan tipe gomo. Rumah dengan tipe moro mempunyai bentuk oval seperti bulat telur. Sedangkan tipe gomo, skematiknya hampir menyerupai bujur sangkar, tetapi berisi garis-garis lengkung.

Konstruksi dari rumah adat Nias ini terbuat dari kayu yang keras dan kokoh. Tiang yang digunakan juga tinggi, sehingga orang bisa masuk ke bawah rumah. Bangunan omo sebua tidak berhubungan langsung dengan tanah dan tahan terhadap gempa bumi.

Selain itu, terdapat komponen skylight yang berfungsi sebagai pintu masuk udara dan matahari, sehingga suhu di dalam rumah akan tetap nyaman dan hemat energi.

Pada bagian depan rumah selalu terdapat dua buah kolom beton berukuran besar dengan ukuran 30 x 30 cm. Hampir semua bangunan rumah menggunakan cat kayu berwarna coklat agar terlihat etnik.

Sama halnya dengan omo hada, maka rumah adat satu ini juga memiliki keunikan dengan filosofinya yang khas, yakni:

–       Pengerjaannya Memakan Waktu 4 Tahun

Pengerjaannya Memakan Waktu 4 Tahun

Tidak mudah untuk membangun rumah adat omo sebua, sebab cara pengerjaannya tidak boleh sembarangan. Dalam membangun rumah adat ini, setidaknya  membutuhkan sekitar 40 pekerja dan bahkan masa pengerjaannya bisa mencapai 4 tahun.

Uniknya, dalam masa pengerjaan rumah ketua suku ini, masyarakat Nias akan selalu menyediakan 2 ekor babi untuk menu makanan orang-orang yang membangun rumah ini. Jika omo sebua hampir selesai, maka puncaknya akan menyembelih 300 babi untuk dihidangkan.

–       Semua Kepala Babi Menjadi Dekorasi

Semua Kepala Babi Menjadi Dekorasi

Keunikan lainnya dari rumah adat Nias ini adalah semua tengkorak dari kepala babi yang disembelih setiap harinya selama 4 tahun akan menjadi hiasan.

Ya, kepala babi dikumpulkan dan menjadi dekorasi untuk interior rumah. Dekorasi tengkorak kepala babi ini masih bisa ditemukan di rumah omo sebua sampai sekarang.

–       Pembuatan Rumah Tanpa Menggunakan Paku

Pembuatan Rumah Tanpa Menggunakan Paku

Semua proses pengerjaan konstruksi rumah adat tidak diperbolehkan menggunakan paku. Ya, ciri menonjol yang menjadi keunikan bangunan rumah adat omo sebua adalah dibangun tanpa menggunakan paku.

Metode konstruksi ini dinamakan dengan “Vernakular” dan masih dijaga oleh suku Nias sampai sekarang. Suku Nias hanya mengandalkan ikatan simpul untuk menyambung antara kayu satu dengan lainnya di setiap konstruksi bangunan.

Arsitektur vernakular cenderung berkembang dari waktu ke waktu mencerminkan konsep rumah yang ramah lingkungan, menjunjung budaya dan sejarah yang ada.

Metode vernakular ini bukan tanpa sebab, ya! Filosofi dari penggunaan metode ini adalah karena suku Nias ingin membuat rumah yang ramah lingkungan. Kemudian ketika nantinya rumah hendak dibongkar, tidak ada jenis material yang membahayakan.

Sudah tahu 2 rumah adat suku Nias, bukan? Nah, satu hal yang perlu diketahui adalah bahwasannya setiap rumah adat di Nias ini strukturnya akan berbeda, tergantung pada daerah suku Nias berada seperti Nias Utara, Nias Tengah, dan selatan.

Nias Selatan ada di dataran rendah atau pesisir dan masyarakat sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan, maka hal ini mempengaruhi bentuk dan struktur rumah yang menempel satu sama lain, seperti pagar dan pengamanan yang tinggi agar terhindar dari banjir.

Rumah adat suku Nias Selatan bisa ditempat hingga 30-40 kepala keluarga dalam satu bangunan Sedangkan masing-masing keluarga yang tinggal di Nias Utara lebih banyak terpencar dalam satu kompleks. Jadi, dalam satu rumah bisa ditinggali hanya satu atau beberapa keluarga saja.

Sementara untuk Nias Tengah, rumah adatnya tidak terhubung antara satu dengan lainnya. Semua rumah dibangun secara  individual dengan dihiasi oleh ukiran yang masih primitif.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *