Baju Adat Gorontalo

  • 4 min read
  • Mei 31, 2020
Baju Adat Gorontalo

Provinsi Gorontalo merupakan provinsi pecahan dari Sulawesi Utara. Provinsi baru tersebut dibentuk pada masa pemerintahan Presiden Gus Dur. Meski tergolong masih muda, namun Gorontalo memiliki tradisi serta keunikan yang berbeda dari provinsi induknya. Salah satu keunikan tersebut terdapat pada baju adatnya. Berikut ini beberapa hal tentang baju adat Gorontalo yang perlu Budayanesia ketahui.

Ciri Keunikan Baju Adat Gorontalo

Ciri Keunikan Baju Adat Gorontalo

Beberapa waktu yang lalu, berita tentang baju adat Gorontalo sempat menjadi viral. Pasalnya, Putri Kebudayaan Gorontalo memodifikasi busana tradisional ini untuk menciptakan baju adat Gorontalo modern. Ia memadukan busana tersebut dengan celana pendek. Sontak saja para pemerhati budaya langsung melancarkan protesnya. Modifikasi ini dianggap tidak sesuai dengan adat dan norma.

Pakaian adat Gorontalo untuk wanita sejatinya adalah pakaian yang cukup tertutup. Busana ini terdiri dari atasan lengan panjang dan rok panjang. Hiasan dan berbagai aksesoris pelengkap membuat pakaian ini menjadi terlihat unik dan berbeda dari busana khas daerah lain. Dibandingkan dengan beberapa baju adat daerah lain, pakaian adat Gorontalo ini tampak lebih semarak.

Ada beberapa hal yang membuatnya tampak semarak. Salah satunya adalah warna baju adat ini. Warna baju adat daerah Gorontalo cerah, ceria, dan mencolok serta tersedia dalam berbagai warna. Selain itu, pakaian ini juga memadukan berbagai unsur, yaitu berbagai jenis kain, logam, dan bulu-bulu.

Filosofi Baju Adat Gorontalo

Filosofi Baju Adat Gorontalo

Pakaian adat dari provinsi ini penuh dengan makna filosofis. Salah makna tersebut dapat ditemukan pada warna-warna kain yang digunakan. Berikut ini filosofi pakaian adat Gorontalo berdasarkan warnanya

  1. Merah

Nilai filosofis dari warna merah adalah tanggung jawab serta keberanian. Dengan demikian, diharapkan bahwa masyarakat yang mengenakan pakaian warna ini memiliki tanggung jawab serta semangat untuk menjaga daerahnya.

  1. Kuning Keemasan

Warna ini menyimbolkan kebesaran, kemuliaan, kesetiaan, serta kejujuran. Mereka yang memakainya diharapkan dapat menjadi seorang pemimpin yang mulia serta bijaksana dalam memimpin daerahnya maupun keluarganya.

  1. Hitam

Warna ini melambangkan keteguhan serta ketakwaan. Selama ini, masyarakat Gorontalo memang memiliki tradisi yang kental dengan nilai keislaman. Sehingga, tak heran jika mereka diharapkan untuk selalu bertakwa dan berpegang teguh pada nilai agama

  1. Hijau

Pakaian adat Gorontalo yang berwarna hijau melambangkan kesejahteraan, kesuburan, kerukunan, serta kedamaian. Mereka yang mengenakannya diharapkan dapat menjaga persatuan maupun tali persaudaraan antara masyarakat Gorontalo.

  1. Ungu

Nilai filosofis dari warna ungu adalah keanggunan serta kewibawaan. Para pemakai pakaian warna ini diharapkan dapat menjadi pemimpin yang berwibawa.

  1. Coklat

Pakaian adat warna coklat dari Gorontalo memiliki nilai filosofis yang sangat bermakna, yaitu tanah. Orang yang mengenakannya diharapkan menyadari bahwa tanah adalah tempat kembalinya manusia. Sehingga, mereka harus menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya dan banyak beramal.

  1. Putih

Warna ini melambangkan kesucian serta kedukaan. Dengan demikian, para pemakainya diharapkan dapat menjaga kesucian.

Meski terdapat tujuh warna pilihan, namun hanya empat warna kain yang paling sering digunakan untuk membuat baju adat Gorontalo. Warna tersebut adalah kuning keemasan, merah, ungu, serta hijau.

 

Nama Baju Adat Gorontalo

Pakaian adat daerah Gorontalo ada beberapa jenis. Mereka dibedakan berdasarkan pemakainya, yaitu pria dan wanita.

  1. Untuk Pria

Nama Baju Adat Gorontalo Untuk Pria

Setidaknya ada dua jenis pakaian adat pria Gorontalo. Jenis yang pertama adalah Makuta. Busana ini terdiri dari kemeja lengan panjang dengan dua saku atas dan kerah berdiri, celana panjang dengan warna yang sama, dan hiasan kepala besar. Kemeja ini dihiasi dengan hiasan berkilauan dan keemasan.

Jenis yang kedua adalah Payungga. Bentuk busana ini berupa tunik lengan panjang dan celana panjang. Selain itu, busana ini juga dilengkapi dengan hiasan kepala yang lebih sederhana dan lebih kecil serta selendang.

  1. Untuk Wanita

Nama Baju Adat Gorontalo Untuk Wanita

Pakaian adat Gorontalo untuk wanita juga ada dua macam. Jenis yang pertama adalah Biliu. Busana ini terdiri dari rok panjang bagian dalam (oyilomuhu), outer untuk rok, dan baju kurung berlengan panjang (galenggo). Pakaian ini dilengkapi dengan berbagai aksesoris yang membuatnya semakin cantik dan sarat akan makna filosofis.

Jenis pakaian adat lainnya adalah Walimomo. Model busana ini berupa pakaian lengan panjang, sarung yang dipakai seperti jubah, dan rok panjang. Kain yang digunakan untuk membuat pakaian ini cukup beragam, yaitu brokat, beludru, satin, dan kain tenun. Busana tersebut cukup unik dan penuh dengan detail-detail cantik.

 

Baju Adat Pernikahan Khas Gorontalo

Ragam-ragam baju adat yang telah disebutkan di atas dikenakan dalam upacara pernikahan. Secara garis besar, upacara tersebut dibagi menjadi dua prosesi, yaitu akad nikah dan resepsi pernikahan. Di setiap prosesi, pengantin menggunakan pakaian yang berbeda.

  1. Akad Nikah

Baju Adat Gorontalo Akad Nikah

Pada akad nikah, pengantin pria akan mengenakan Payungga. Busana ini biasanya dilengkapi dengan hiasan kepala (Payungga Tilambia), ikat pinggang (Etango) yang bersepuh emas, dan keris pusaka (Patatimbo). Pengantin wanita menggunakan Walimomo. Beberapa aksesoris pelengkapnya adalah hiasan kepala semacam sunthi berjumlah 9, kalung, dan gelang.

  1. Resepsi Pernikahan

Resepsi Pernikahan Gorontalo

Untuk resepsi pernikahan, pengantin pria memakai baju adat Gorontalo yang disebut Makuta. Selain itu, ada beberapa aksesoris pelengkap, misalnya tudung (hiasan kepala), keris pusaka, dan pasimeni (hiasan pada baju).

Sedangkan pakaian resepsi pengantin wanita adalah Biliu. Aksesoris yang digunakan pada resepsi ini lebih banyak daripada aksesoris yang dikenakan pengantin wanita pada saat akad nikah. Berikut ini beberapa aksesoris utamanya.

Etango: ikat pinggang.yang melambangkan kewajiban utama istri yaitu memasak makanan yang halal. Selain itu, seorang istri juga harus bersifat sederhana dan ikhlas menerima apa adanya.

Etango

Pateda: gelang keemasan yang berukuran besar yang melambangkan kemampuan pengendalian diri seorang istri dari perbuatan yang melanggar peraturan adat dan perbuatan tercela.

Pateda

Loubu: perhiasan yang dikenakan pada ujung jari manis dan kelingking yang menyimbolkan ketelitian.

Loubu

Kecubu: aksesoris yang menutup bagian dada dan melambangkan bahwa kekuatan seorang istri dalam menjalani kerasnya kehidupan berumah tangga.

Kecubu

Baya la boute: ikat kepala berhiaskan manik-manik dan berwarna keemasan yang melambangkan bahwa wanita yang memakainya telah terikat dalam perkawinan dan memiliki kewajiban sebagai seorang istri.

Baya la boute

Lai-lai: hiasan bulu-bulu yang diletakkan di atas ubun-ubun. Aksesoris ini melambangkan keluhuran budi dan warna merah putihnya melambangkan keberanian dan kesucian.

Lai lai

Baju Adat Gorontalo untuk Anak-anak

Baju Adat Gorontalo untuk Anak anak

Untuk anak-anak, baju adat Gorontalo yang dikenakan mirip dengan yang dikenakan oleh orang dewasa. Akan tetapi, terdapat beberapa perbedaan yang dapat dilihat. Misalnya, pada pakaian anak laki-laki terdapat lilitan kain tenun khas Gorontalo. Sedangkan pakaian anak perempuan memiliki detail yang lebih sederhana. Selain itu, Lai-lai yang dikenakan lebih warna-warni dan hiasan kepalanya lebih sedikit.

Baju adat daerah Gorontalo adalah busana yang mewah. Busana ini dibuat dari kain mahal dan berkualitas, contohnya beludru, brokat, dan kain tenun sengkang. Selain itu, hiasan serta aksesorisnya bersepuh emas. Sehingga, tak heran jika mereka yang memakainya nampak menawan seperti putra dan putri kerajaan.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *